Selasa, 27 September 2016

Bawakaraeng

Bawakaraeng
Tempat yang di luhurkan para leluhur
Kini hanya menghembuskan angin kepiluan

Bawakaraeng
Tempat para wali bertemu
Angin bertiup tak lagi sumringah ditanah anging mammiri

Padahal ada manusia,
Manusia manusia penyandang gelar
Makhluk yang mulia
Tapi tak tahu cara memuliakan bukti ke Esaan penciptanya

Terlebih ironis bagi Manusia manusia
Yang mengakui memiliki predikat pencinta alam
Tapi tak tahu caranya mencintai

Bawakaraeng
Di tanahmu engkau tak lagi
Diperlakukan semestinya
Bahkan keelokanmu pun di jadikan tempat bersenang senang oleh kaum hedonis

Bawakaraeng
Rusak terhinakan di tanahnya sendiri

Senin, 19 September 2016

Pelupa

Bila kau pergi,
Ingat aku sebagai seseorang yang selalu
Percaya bila kau
Pasti kembali.,

Dan juga tetap ~
Ingat -ingatlah bila

Tak pernah ada
Dalam inginku untuk melupakanmu,
Sekalipun
Aku pelupa.

~ kharisma p. Lanang

Minggu, 11 September 2016

9 perempuan di negeri 9 matahari

Kita adalah sepenggal cerita tentang perempuan perempuan itu,
kita dudukduduk bersama
berbicara mengenai ucapan yang tidak bisa di katakan kecuali dengan harapan,
demikianlah
desember telah berganti
yang ku ingat (hanya)  tak pernah ada bahagia sesakit itu. 

Sabtu, 10 September 2016

Aku, kamu (taklagi) kita

Kita...
tak lagi tersemat diantara aku dan kamu
Kamu kini hanya bayang semu
Yang begitu sempurna menjadi pelipur lara~ku

Kamu adalah cercahan kebahagiaan
yang tiba tiba sirna, Menghilang begitu saja...

Kita...
Kini menjadi kata yang begitu mencekam
tak lagi kudapati makna sesederhana kebahagiaan yg ia ciptakan

Ah sudahlah aku tak ingin menyalahkan apa apa dan siapa siapapun..
Kenyataannya kita telah berpisah,,,

Anggap saja bukan tentang waktu,  terlebih takdir melainkan tentang kita..
Kita yang telah melahirkan perkara perasaan ini, sehingga begitu rumit bahkan berujung perpisahan

Jauh di dalam perasaanku,  ketahuilah
Melepaskan mu pergi sudah pasti..
Membiarkanmu bahagia dengan pilihanmu sudah pasti..

tetapi satu yang tak dapat ku pastikan

Kata "kita" mungkin enggan beranjak dari singgahsana nya yaitu hatiku.

(masih) kamu

Kamu tahu..
Meski lebih dari 1000 hari perpisahan kita bayang bayang namamu kian gencar menyelimuti ruang di kepalaku

Kamu tahu..
Aku benci perasaan ini,  perasaan bagai dipenjara oleh bayang bayangmu

Kamu tahu..
Memperlakukan ku begitu manis kala itu ternyata berujung kelana seperti ini

Kamu tahu..
Aku benci begitu benci tiap kali ku coba membuka ruang yang pernah kau singgahi di hati ini namun tetap saja mencari kebiasaan kebiasaan yang di peroleh dari kamu

Kamu tahu..
semakin ku yakinkan hatiku "kamu hanya sebatas kenagan yang dulu , yang dulu yang tak sempat diamini semesta saat itu"
Nyatanya apa,  serasa luka yang ada terkorek semakin dalam...

Tetiba Bisik di benakku
Tak dapatkah waktu kembali, meskipun hanya 1 jam..
Mungkin dengan 1 jam itu bisa menyelesaikan rasa ini, mengakhiri rasa yang pernah ada yang belum terselesaikan hingga detik ini..

Terantuk khayalku
semua tak lagi sama ,
Kamu telah memutuskan untuk bahagia
Membangun kebahagiaan dengan perempuan lain

Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu
Mengakhiri perasaan seperti ini dengan sebelah tangan bahkan lebih sakit dan lebih mengerikan dari tulisan ini.

Untuk seseorang di hari kemarin

Dan bila


Dan bila,
Bila suatu saat nanti,
Engkau tenggelam,
Tenggelam dalam kesendirian,
Sendiri dalam kesedihan,
. . .
Janganlah,
Janganlah ragu utuk mengingatku,
. . .
Mungkin,
Aku tidak dapat mengeluarkanmu,
Lalu membuatmu,
Tersenyum ataupun tertawa,
. . .
Tetapi,
Pastilah aku datang menemanimu,
Menemanimu berjalan dalam kesedihan.
------------------------------------
Dan bila,
Bila suatu saat nanti,
Engkau ingin lari menjauh,
Menjauh dalam kesendirian,
Sendiri dalam kesunyian,
. . .
Janganlah,
Janganlah ragu utuk mengingatku,
. . .
Mungkin,
Aku tidak dapat menahanmu,
Lalu membuatmu,
Terhenti ataupun tertegun,
. . .
Tetapi,
Pastilah aku datang menemanimu,
Menemanimu berlari dalam kesunyian.
-----------------------------------
Dan bila,
Bila suatu saat nanti,
Engkau tidak ingin mendengar,
Tidak ingin mendengar apapun,
Dari siapapun juga,
. . .
Janganlah,
Janganlah ragu utuk mengingatku,
. . .
Pastilah aku datang menemanimu,
Menemanimu dengan seluruh diamku.
---------------------------------
Akan tetapi,
Bila suatu saat nanti,
Engkau mengingatku,
Dan,
Aku tidak datang
. . .
Pasti,
Pastilah aku telah tiada,
Dan
Tidak mungkin,
Aku dapat memastikan untuk menemanimu.

Dan Bila (Oleh : Nevy James T )

Senin, 05 September 2016

Catatan 17an

Pernah suatu hari seseorang yang kami anggap sebagai guru menyampaikan "masalah mendasar dimuka bumi  ketika kita mengingkari fungsi dan kedudukan segala sesuatu, sama halnya dgn Salah satu kerusakan gunung itu adalah karena cara berpikir yang salah (yang naik ke gunung)"

Kami pernah mengadakan diskusi Gunung bawakaraeng rusak terhina, saya sampaikan sekali lagi secara fisik gunungnya rusak dan kedudukannya terhina sebagai gunung,

Kenapa kita peduli dengan gunung?  Yah karna kami manusia, semua ciptaan Tuhan adalah makhluk dan hanya manusia yang diberi akal sama halnya dengan gunung...

Gunung Bawakaraeng!
bahkan bukan hanya disana tetapi gunung2  yang ada di penjuru di negeri ini,

sebentar lagi akan menjadi tempat (upacara 17an) oleh manusia yang menyatakan  memiliki jiwa nasionalisme, Dan lebih memilukan lagi bagi mereka yang menyandang predikat mahasiswa pencinta alam / pencinta alam

Sungguh ironi,  kami sadar kami tak punya hak / kapasitas melarang mereka melakukan ritual2 17an yg mereka maksud dengan meningkatkan rasa nasionalisme itu, lalu apa yg harus kami lakukan sebagai manusia yg  mulai sadar dgn sandangan predikat pencinta alam ini, Sehingga dapat mengurangi pengunjung ke tempat (gunung) yang kami anggap sakral untuk belajar, atau memang mungkin  tak ada cara untuk mencegah pengunjung yg berlebihan?

entahlah...